Mengenal 5 Fakta tentang Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa menjadi salah satu kondisi bayi yang membuat para orang tua merasa khawatir. Meskipun bukan penyakit, para orang tua khawatir akan pemenuhan nutrisi si kecil, terlebih masa ini merupakan masa optimasi tumbuh kembang anak. Sebelum ketakutan Anda semakin besar, sebaiknya Anda terlebih dulu melakukan cek alergi. Dan berikut beberapa fakta mengenai intoleransi laktosa yang bisa Anda simak.

  1. Intoleransi Latosa Berbeda dengan Alergi Susu Sapi

Intoleransi terhadap laktosa ini terjadi akibat kandungan laktosa dalam produk susu yang melebihi kapasitas enzim laktase usus dalam mencerna laktosa sehingga memunculkan suatu reaksi tertentu, seperti masalah terhadap sistem pencernaan. Berbeda dengan alergi susu sapi yang menyerang sistem imun hingga muncul reaksi.

Jika si kecil langsung menunjukkan gejala tertentu setelah meminum susu sapi, maka kemungkinan terjadi alergi susu. Sedangkan, bagi bayi yang mengalami intoleransi terhadap laktosa, mereka membutuhkan waktu tertentu untuk merasakan suatu reaksi karena tubuh mereka masih memberikan toleransi terhadap jumlah yang sedikit.

  1. Normal Dialami oleh 75% Manusia

Ternyata, kondisi intoleransi terhadap latosa ini dialami oleh banyak orang, bahkan menjadi kondisi yang normal bagi 75% manusia. Semua mamalia, termasuk manusia akan kehilangan enzim laktase dalam usus secara alami karena digunakan untuk mencerna laktosa. Kondisi ini biasanya terjadi ketika mereka sudah dewasa.

Secara genetik, tubuh masih bisa mengontrol kehilangan tersebut sehingga aktivitas laktase yang rendah merupakan sesuatu yang normal untuk 75% orang dewasa. Bahkan, mereka yang memiliki aktivitas enzim laktase tetap tinggi sepanjang hidupnya merupakan minoritas di dunia ini.

  1. Minum Susu secara Rutin

Sebagian besar orang yang mengalami gejala akibat intoleransi terhadap latosa biasanya akan menghentikan konsumsi susu. Padahal, semakin rutin meminum susu justru dapat membuat Anda terhindari dari intoleransi tersebut. Biasakan untuk minum susu dalam porsi kecil atau sekitar satu gelas kecil dengan 12 gram laktosa.

Jumlah tersebut masih bisa ditoleransi oleh tubuh sehingga tidak akan memunculkan gejala-gejala tertentu. Dengan demikian, kemampuan bakteri di usus akan semakin baik dan terlatih dalam mencerna laktosa. Hal ini pun membuat intoleransi laktosa yang Anda alami semakin ringan.

  1. Peran Sugesti dalam Kondisi Ini

Setiap orang menunjukkan reaksi intoleransi laktosa yang berbeda-beda akibat kondisi fisiologis dan psikologis yang berbeda pula. Sebagian orang akan merasa langsung sakit perut dan diare setelah mereka minum segelas susu. Hal ini ternyata juga dipengaruhi oleh kondisi psikologis atau sugesti yang kita yakini.

Apabila kita percaya bahwa reaksi tersebut merupakan gejala dari intoleransi terhadap laktosa, maka setelah mengonsumsi susu, kita akan mengalami gejala tersebut karena dalam pikiran, kita sudah menanamkan keyakinan tersebut. Jadi, jangan terlalu mudah untuk mengambil kesimpulan sebelum melakukan pemeriksaan.

  1. Susu Cokelat dan Yoghurt Bisa Menjadi Solusi

Sebagian besar orang yang mengalami reaksi setelah meminum susu, biasanya mereka akan lebih memilih susu cokelat karena kandungan energi dan lemak yang lebih tinggi dibanding susu putih sehingga bisa meningkatkan toleransi usus terhadap laktosa. Selain susu cokelat, yoghurt juga bisa menjadi solusi.

Pada umumnya, tubuh masih bisa mencerna laktosa dalam yoghurt dibanding laktosa dalam susu. Selain itu, kandungan bakteri dalam yoghurt akan membantu enzim laktase dalam memfermentasikan laktosa sehingga mengecilkan peluang munculnya gejala intoleransi terhadap laktosa.

Demikian beberapa fakta menarik mengenai intoleransi laktosa. Fakta tersebut bisa memberikan pemahaman lebih dalam mengenai gejala, penyebab dan hal-hal lain yang berkaitan dengan intoleransi terhadap laktosa. Ada baiknya jika Anda berkonsultasi pada dokter mengenai kondisi si kecil ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *